FENOMENA PILKADA

Belakangan ini ramai diberitakan di media cetak ataupun media elektronik pencalonan artis “seksi” menjadi cabup/cawabup untuk daerah kabupaten pacitan. Walaupun banyak pro dan kontra yang menyertai pencalonannya, namun sang artis tetap maju. Bahkan ada beberapa partai yang mendukung dan mencalonkan sang artis untuk menjadi calon bupati/calon wakil bupati.

Memang tidak ada yang melarang, bahwa setiap warga negara indonesia boleh mencalonkan diri menjadi kepala daerah seperti bupati, gubernur, ataupun menjadi presiden. Namun ada syarat- syarat harus dipenuhi oleh seorang calon pemimpin. Dan tidak semua warga negara indonesia mampu memenuhi syarat-syarat tersebut. Baru saja di salah satu stasiun televisi swasta menayangkan dialog tentang pencalonan menjadi kepala daerah yang menghadirkan menteri dalam negri dan beberapa pembicara yang ahli di bidang pemerintahan.

Ternyata untuk maju mencalonkan diri menjadi kepala daerah sungguh mahal dan butuh dana yang sangat- sangat banyak. Info dari bapak menteri dalam negeri yang dulu adalah gubernur sumatera barat, dulu membutuhkan dana sekitar 20 M sampai dengan 30 M untuk pencalonannya sebai gubernur. Bahkan ada rekan sesama gubernur yang mencapai dana sebesar 100 M. Sungguh dana yang fantastis.

Dan itu pun belum tentu terpilih menjadi kepala daerah. Jadi tidak heran kalo ada calon bupati atau calon gubernur yang stress setelah kalah di pemilihan kepala daerah. Ada rahasia umum bahwa setiap calon yang ingin mencalonkan diri menjadi kepala daerah lewat suatu partai, maka calon tersebut harus menyetorkan dana ke partai tersebut antara Rp 500 juta sampai Rp 1 M.

Masih megutip keterangan dari bapak menteri dalam negri, saat ini seorang bupati memdapatkan panghasilan gaji pokok sebesar Rp 6 jutaan ditambah tunjangan-tunjangan dan seorang gubernur sebesar Rp 8 jutaan ditambah tunjangan-tunjangan. Jadi kita bisa bayangkan bagaimana seorang kepala daerah yang mempunyai masa jabatan lima tahun bisa menggembalikan modal kampanye pemilihan kepala daerah.

Melihat kenyataan ini menurut saya ada yang salah dalam sistem pemilihan kepala daerah, atau pemilihan umum di negeri ini. Begitu banyak dana yang terfokus untuk masalah ini, padahal masih banyak masyarakat kita yang membutuhkan bantuan. Padahal bagi saya pribadi siapa pun calon pemimpin itu, bukan dilihat dari profesi, artis atau bukan, kaya atau miskin, tapi dilihat dari kualitas yang dimiliki. Menurut saya seorang pemimpin harus dikenal oleh rakyatnya dan juga harus mengenal rakyatnya. Dan yang terpenting adalah keteguhan iman, sehingga tidak mudah tergoda untuk menyelewengkan jabatan tetapi bekerja dengan tulus untuk kepentingan rakyat.

Sumber: acara dialog di tv one.(tgl 5 april2010)

Advertisements

8 Responses

  1. Inilah yg dulu2 sering di sebut BADUT POLITIK ya mas he

  2. Sebentar lagi ada PILKADA Blora 3 juni 2010… ^_^

  3. berarti pasti korupsi gitu maksudnya? dengan gajinya yang gak sebanding saat pencalonan begitu?

    • mudah2 an ga korupsi mas hanif, tapi info nya, biasanya mereka akan banyak main di proyek2 dengan memanfaat kan kekuasaan. mudah2 an ga semua pemimpin kita ga begitu 🙂

      sumber: acara dialog tv one 5 april 2010

  4. IMHO, kalo tokoh yang mencalonkan diri itu memang telah dikenal baik dan dicintai masyarakatnya, ga usah mengeluarkan dana hingga puluhan M juga insya Allah terpilih… (meskipun teteup butuh ratusan juta sih :D)

    Salam kenal Mas…

    • kalo udah dikenal dan dicintai oleh rakyat, ga usah mencalonkan, tapi malah rakyat yang minta untuk jadi pemimpin. nggeh to….ma kasih udah mampir mbak. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: